Meja kursi


Seolah-olah meja kursi berbicara, menggunjingkan aku dan kamu yang sudah tak lagi menjadi kita. Mereka dengar dan lihat semua sore kita, dimana secangkir kopi yang pernah basahi bibir dibawah senja sebelum matahari mungil tergelincir. Dan pada akhirnya kamu yang buat secangkir kopi tumpah meruah ke mata meja; berantakan. Atas nurani yang tak sempat termaafkan atas bhakti yang tersesalkan, aku akui aku malu pada mereka untuk duduki dan singgahi mereka kembali. 

Semenjak hari itu, kamu rusak senja sore kita. Aku menunggumu lelaki. Tapi kiranya kamu tak ingin pulang. Aku lihat ada meja kursi betatakan jati. Lebih indah bukan?!. Ya indah memang.

Baiklah, silahkan nikmati senja soremu bersama dengan meja kursi jati barumu. Aku tak cemburu. Aku merasa ini adil. Aku bahagia, ya harus bahagia. Kamu bukan milik meja kursiku melainkan meja kusri dia. 

Kisah meja kursi yang aku hafal kini aku lenyapkan. Tak ada lagi cerita atau dongeng meja kursi dengan diatasnya terdapat secangkir kopi hitam kita. Meski nantinya yang kurindukan lagi adalah bukan kamu melainkan meja kursi yang aksi tanpa reaksi. Tapi aku memilih kembali ke mereka bukan bersamamu lagi melainkan dengan seseorang yang selalu menuliskan namaku dengan pena dan sajaknya diatas meja kursi tuanya.

Jika kamu butuh meja kursiku kembali, silahkan datanglah duduk bersamaku lagi tapi hanya sekedar mendengar dongeng patah hati bukan untuk membuka cerita kita lagi.




Komentar

  1. Tentang air yang berjalan begitu saja ya ka? Atau tentang apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan. Tentang senja sore dan kopi yang tak jadi milik mu lagi, dek.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paranoid.

Aku Tolol

Menjalin rasa menjamin asa.