Paranoid.
Setelah hari itu, muncul paranoid yang membuat kejamakan dramatisasi dari kisah yang tak benar-benar nyata. Sungguh keparnoan ingin mencekik leherku hingga mataku terbelalak seperti ingin loncat dari permukaannya. Aku tahu kamu tidak sepenuhnya terhadap aku. Penantianmu selalu aku jadikan prioritas dalam hidup untuk menikmatinya pun tak butuh persoalan yang rumit. Nyatanya, kamu membuat duniaku berhenti berputar, lagi dan lagi. Setengah dari jiwaku seakan melayang menghadap ke arah Tuhan sambil memincingkan mata yang siap-siap di penghakiman. Ah ini hanya ketakutan aku saja, terlalu takut disebut wadat. Logika sudah aku gantungkan dalam anomali, kini hanya hati yang berasumsi. Bosan aku dengan sombong yang mengatasnamakan egoisasi. Baiklah kekasih, kamu memang tidak ada dibagian paranoid. Silahkan pergi. Tak perlu pamit. Biarkan aku menikmati...

Tentang air yang berjalan begitu saja ya ka? Atau tentang apa?
BalasHapusBukan. Tentang senja sore dan kopi yang tak jadi milik mu lagi, dek.
Hapus