Nahkoda Hilang Arah, Apakah Penumpang Wajib Ikut Tenggelam?
Ada kapal yang berlayar jauh, mesinnya kuat, layarnya terbentang sempurna. Dari geladak, para penumpang merasa aman. Angin membawa kapal itu maju, ombak sesekali menghantam, tapi perjalanan terus berjalan.
Di anjungan, nahkoda berdiri tegap. Tangannya cekatan memegang kemudi. Peta ada, kompas tersedia, tapi jarang benar ia menunduk untuk memeriksa arah bintang. Ia percaya laut sudah cukup dikenalnya. Percaya pengalaman lebih dari petunjuk langit.
Hari-hari berlalu di atas air yang tampak sama. Matahari terbit dan tenggelam, penumpang berganti aktivitas, dan kapal terus bergerak. Namun tanpa disadari, arah pelayaran mulai sedikit menyimpang. Tidak drastis, hanya beberapa derajat. Terlalu kecil untuk diributkan, terlalu besar untuk diabaikan.
Bukan karena kapal ini rusak, juga bukan karena nahkodanya lalai sepenuhnya. Ia hanya terlalu sibuk memastikan kapal tetap berjalan, hingga lupa memastikan ke mana ia sebenarnya menuju. Doa-doa yang seharusnya menjadi jeda kini tergantikan oleh perhitungan dan kecepatan.
Penumpang tidak selalu berani bertanya. Mereka merasakan getaran halus yang berbeda, tapi memilih percaya. Toh kapal masih mengapung, langit belum runtuh, dan badai belum terlihat di kejauhan.
Sampai suatu malam, ketika bintang tertutup awan dan laut tak lagi ramah, barulah terasa betapa pentingnya petunjuk yang dulu dianggap sepele. Di tengah gelap, kemudi terasa lebih berat, dan kepercayaan diri tak lagi cukup sebagai penuntun.
Tulisan ini bukan tentang menyalahkan siapa pun di atas kapal, ini tentang jeda yang terlewat. Tentang kebiasaan menatap ke depan tanpa sesekali menengadah. Tentang pelayaran panjang yang butuh lebih dari sekadar tenaga; ia butuh arah.
Mungkin yang dibutuhkan nahkoda bukan peta baru, melainkan keberanian untuk berhenti sejenak, menenangkan mesin, dan kembali membaca tanda-tanda langit. Agar kapal ini tak hanya terus berlayar, tapi juga benar-benar sampai.
Komentar
Posting Komentar