Bunga Di Tepi Jalan

Ia memang tak semenawan mawar. Ia memang tak seharum melati, dan tidak pula seunik anggrek. Ia hanya ingin sama dengan yang lainnya mendapatkan posisi dalam sejuta pesona diagungkan oleh tuannya. Mungkin ia aneh, janggal dari bunga lainnya oleh karenanya tumbuh di tepian jalan. 


Ia hanya ingin diingat selayaknya. Tapi siapa ia? Hanya kelopak bertatakan daun menguning berdiri pada batang yang bergeming. Namun sungguh ia sangat setia, terus saja menjaga alam semesta sebagai pusat kehidupannya.


Iri, dipertepian ia muram hanya ada udara-udara yang gagap, bisikan hatinya setengah terluka sebab sepi diselasar sunyi yang kalap. Namun ia bebas berkelana dibawah hujan yang begitu lebat menaungi tempat-tempat keramat. Keberadaannya tak jelas. Kadang di kota kecil yamg dilupakan letak persisnya dimana, kadang pula dikota senja yang dirajam sunyi sepi. 


Seaneh apapun dirinya, seburuk apapun bentuknya walau tanpa sebutan nama, ia akan tetap terus mekar bergadang hingga merekah. Ia tak butuh pengakuan, ia ada meski ia tahu bahwa angin akan menjatuhkannya. Ia bunga tepi jalanan, si wanita yang berteriak dalam diam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paranoid.

Aku Tolol

Menjalin rasa menjamin asa.