Fif,
Mungkin kamu benar fif, Tuhan mentakdirkan kita hanya untuk sekali bertemu tanpa menikmati waktu untuk duduk bersama didepan penghulu.
Aku tidak benar-benar tahu siapa yang paling sedih bahkan dalam puisiku menuliskan namamu adalah satu-satunya caraku membuatmu abadi meski tak bisa kumiliki. Egois terkadang seperti kedua mata dan telinga, tak ingin ada mata dan telinga yang lainnya egois selalu menang dalam hal ini fif, segala kenang tentangmu fif yang membuatku tak bisa melihatmu dengan baik akan selalu kusimpan dengan rapi dalam ingatan meski ragamu hanya bisa kupandang dari kejauhan.
Warung lesehan ini fif, berlari ke masa lalu. Dimana kita pernah duduk bersisian mesra mendebarkan dua dada. Ingatkah itu fif ??!!
Ah sudahlah...
Untuk kisah yang tak terselesaikan hari ini, esok, lusa, juga selamanya aku keluh kesahkan pada gelar sajadah panjang, cinta yang baik pasti tahu jalan pulang. Tak perlu cemas percaya, doa, dan penuntunnya.
👫
Komentar
Posting Komentar