Hijaiyah Cinta

Aku bertanya pada 'alif' yang berdiri di barisan paling depan, mengapa 'bak' selalu bersiul menggoda hingga aku dibuat jatuh olehnya?. Ia mencoba menawarkan 'tak' mengamnesiakan air mata, kemudian menawarkan lagi huruf 'tsa' yang katanya selalu menyisipkan kisah sederhana. Atau setidaknya untuk memilih 'jim' yang selalu jatuh cinta padanya secara perlahan-lahan yang tak mungkin tertiup angin. Ya aku tak memilih atas apa-apa yang kau tawarkan, enggan!!. Mungkin setelah itu 'hak' datang, membawaku untuk duduk bersama agar 'kha' tahu jatuh cinta itu tak dapat di lafadzkan sendirian. Entalah pikiran aku tertinggal pada saktah yang kutitipkan pada 'dal' dan 'dzal' yang selalu rumit menggubris di kedua huruf 'ra' dan 'zai' yang jelas-jelas sudah ku dhomahkan. Aku mencoba untuk melihat 'sin' yang kau tandai di punggungmu, dan 'syin' direbah dadamu. Dan sesekali aku mengargumentasikan 'shad' dan 'dlad' dikedua bibirmu agar kau paham deklarasi, kita mungkin sepasang 'tha' dan 'dha' yang hanya ingin berdiri sendiri padahal akhirnya kita pula yang merana. Sudah 'ain' tunjukkan sebagai mahkluk yang dibungkus anak mas untuk bersujud dan rukuk pada sang khalik sebab 'ghain' adalah hidup yang begitu khidmat  meski jodoh belum mendekat. Pertemuan 'fa' dan 'qaf' disakralkan oleh waktu ya terkadang jarak 'kaf' 'lam' dan 'mim' bisa saja menjeda tanpa sebab karena ada tanwin yang kerab menemui 'nun' saat tajwid membuat 'wau' sesal akan kecemasan dan arah jalan pulang. Namun 'ha' selalu membawa doa bahkan dalam jarak yang begitu panjang menjadi begitu dekat. Sesetia 'hamzah' dalam kesempurnaanya dan 'ya' akhir diujung nafasnya. Ya sesetia Muhammad dan Khadijah dalam hijaiyah cintanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paranoid.

Aku Tolol

Menjalin rasa menjamin asa.