Kenapa bisa patah?

Apa itu? Kenapa retak gitu, kok gak beraturan? Kenapa berantakan, amburadul? Padahal mulanya gak remuk-redam, lah kok ini malah bolong-bolong sampai patah pula?! Siapa yang melakukannya? Oh pasti dia yang tidak bisa baca kamu sampai sekarang ya?! Kenapa dia berasumsi tanpa dugaan?! Apa dia bodoh ya?! Penyangkalannya terlalu keras. Jeritannya terlalu tajam setajam pisau, pasti setiap kamu dengar jeritannya kegelisahan kamu teriris tipis-tipis ya?! Yang sabar ya!! 

Percuma saja, sudah patah tidak bisa berdiri utuh sempurna lagi!! Di ekspresikan saja, bagaimana? Pura-pura semua dalam keadaan baik-baik saja, karena kan manusia tidak pandai dalam memakai nuraninya sendiri. Dia tidak sengaja, hanya empati atasmu.

Emm...
Tapi katanya rasa ini selayaknya membebaskan. Lah kok kesabaran kamu malah kamu tambal batas.

Sekarang dia pergi kemana? Oiya palingan sama dengan yang lainnya. Mematahkan tanpa meminta maaf, iya kan kamu hanya dijadikan persinggahan sementaranya tanpa kamu sadari, iya kan?
Apa dia membuat janji-janji manis untukmu? Untung saja kamu tidak dibuat diabetes olehnya. Apa dia membuatmu terlena? Mampus kamu!!

Ini aku bawakan perekat, setidaknya yang patah itu tidak membuatmu patah selamanya. Aku bawakan kopi juga, pasti kamu mau cerita tanpa pungutan biaya?!!

"......"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paranoid.

Aku Tolol

Menjalin rasa menjamin asa.